Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Nov 11, 2015

STRUKTUR DAN RESTRUTUR ORIENTALISME


PENDAHULUAN

            Seperti yang kita ketahui, orang eropa menganggap timur sebagai barang temuan mereka. Bahkan sejak zaman dahulu, timur telah menjadi tempat yang penuh romansa, mahluk-mahluk eksotik, kenangan, panorama yang indah, dan pengalaman-pengalaman yang mengesankan. Namun, itu dulu. Saat ini, timur telah mengalami perubahan. Kisahnya telah usang. Masanyapun juga telah usai.
            Meski demikian, hal ini bukan berarti bahwa timur lepas dari “dominasi eropa. Saat ini, timur memang tidak lagi menanggung penderitaan atas apa yang ditulis Chateaubriand dan Nerval, namun apa yang mereka tulis seolah masih menyisakan jejak-jejak kekuatan yang mampu mempengaruhi orang-orang eropa dalam memandang timur. Hal ini terlihat jelas dalam diri wartawan perancis itu. Bagi seorang wartawan, yang terpenting adalah representasi (khas) eropa terhadap timur dan nasibnya; sebuah representasi yang nantinya diharapkan member makna komunal bagi dirinya sendiri dan para pembaca perancisnya.
            Sebaliknya, pemahaman amerika tentang timur tampak jauh lebih longgar daripada perancis dan inggris (meskipun saat berada dijepang, korea dan indo-china, saya telah berusaha menumbuhkan kesadaran tentang “Dunia Timur” yang lebih jernih dan realistis). Bahkan peran politik dan ekonomi Amerika yang semakin meluas ditimur dekat (Timur Tengah) telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman kita tentang Dunia Timur saat ini.


A.    Ruang Lingkup Orientalisme
Menurut Edward Said, orientalisme memiliki beberapa fase definisi yang berbeda beda sesuai dengan perkembangan gerakan orientalisme itu sendiri:
  1. Pada fase pertama orientalisme, Edward Said mendefinisikannya sebagai, “Suatu cara untuk memehami dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat Eropa.” Definisi ini masih sangat global dan luas, dimana orang-orang Barat masih dalam tahap pencarian dan pemahaman tentang dunia Timur.
  2. Pada fase kedua Edward Said mendefinisikan orientalisme sebagai “Suatu gaya berfikir yang berdasar pada perbedaan ontologis dan epistemologis yang dibuat antara ‘Timur’ (the Orient) dan ‘Barat’ (the Occident)”. Perbedaan ontologis dan epistemolois yang di maksud dalam definisi Edward meliputi seluruh bidang kehidupan, baik politik, ekonomi, budaya, etika, gaya hudup dan lainnya, dengan memakai metode akademis dan gaya ilmiah. Pada tahap ini orientalisme dengan gaya ilmiahnya mencari titik-titik kelemahan dunia Timur untuk dijadikan acuan perbedaan antara dunia Timur dan Barat, kemudian mengambil yang bermanfaat dari dunia Timur untuk perkembangan dunia Barat. Pada giliranya kajian yang berlabel akademik dan ilmiah itu bermuara pada tuduhan dan penghinaan bahwa dunia Timur adalah primitif dan tidak berperadaban dan harus mengikuti Barat yang berperadaban. 
  3. Pada fase ketiga menurut Edward Said, orientalisme adalah “suatu yang didefinisikan lebih historis dan material dari kedua arti yang telah di terangkan sebelumnya”. Di mulai pada akhir abad ke-18 M. dimana orientalisme dapat dibahas dan dianalisa sebagai lembaga hukum untuk berurusan dengan dunia Timur, dengan membuat pernyataan-pernyataan tentangnya, mengajarinya, menjadikannya sebagai tempat pemukiman, dan memerinthanya. Pendeknya, orientalisme sebagai gaya Barat untuk mendominasi, menata kembali dan menguasai Timur. 
  4. Fase keempat yaitu sekitar abad ke-19 sampai abad ke-20, telah dibuat asumsi bahwa dunia Timur dengan segala isinya, jika bukan secara paten inferior terhadap Barat, maka ia memerlukan kajian koreksif oleh Barat. Dunia Timur dipandang sekan-akan berada dalam wadah berupa ruang kelas, pengadilan pidana, penjara dan manual bergambar. Jadi orientalisme adalah “pengetahuan mengenai dunia Timur yang menempatkan segala sesuatu yang besifat Timur dalam mata pelajaran sekolah, mahkamah, penjara, atau buku-buku pegangan untuk tujuan penelitian, pengkajian, pengadilan, pendisiplinan, atau pemerintahan atasnya”
Kalau dalam definisi yang dilakukan oleh Edward W. Said Oriental masih dalam makna dunia Timur secara global, baik itu Timur jauh (the Far Orient) yang meliputi wilayah China, India, Jepang, Korea dan wilayah Asia Tengggara maupun wilayah Timur dekat (the near Orient) yang meliputi wilayah Irak, Iran, Syiria, Lebanon, Arab Saudi, atau yang mencakup seluruh wilayah Arab, belum di pertegas dengan dunia Timur (Islam).
            Kita sebenarnya sudah bisa memproyeksi ruang lingkup umum pemikiran eropa mengenai timur yang menjadi warisan intelektual  orientalisme selama periode pertengahan dan renaisans, dimana Islam pada saat itu dianggap sebagai islam yang esensial. Akan tetapi selama abad XVIII, ada sejumlah unsur baru yang saling bertaut dan mengisyaratkan datangnya fase evangelis. Garis-garis besar dalam fase ini kembali dilukiskan oleh faulbert dalam beberapa gagasannya sebagai berikut.
            Pertama, dunia Timur dianggap sebagai kawasan yang sangat jauh berbeda dengan tanah-tanah Islam. Anggapan ini sebagian besar dipengaruhi oleh penjelejahan Eropa yang berkelanjutan dan terus meluas kesebagian besar kawasan di dunia.
            Kedua, Sikap yang lebih cerdas terhadap hal-hal yang asing dan eksotik ternyata tidak hanya dimiliki oleh penjajah saja, tetapi juga oleh para sejarawan Eropa yang pada waktu itu tidak saja mampu membandingkan pengalaman eropa dengan peradaban-peradaban lain, tetapi juga mampu membandingkannya dengan peradaban-peradaban yang lebih tua. Hal ini sekaligus menjadi pertanda berkembangnya ntropologi sejarah abad XVIII yang oleh para cendikiawan diilustrasikan sebagai konfrontasi dewa-dewa.

B.     Silvestredesacy dan Ernest Renan: “Antropologi Rasional dan Laboraturium
            Sacy merupakan bapak Orientalisme yang secara langsung menjadi tumbal pertama karena dalam menerjemahkan naska-naskah, pragmen-pragmen dan ringkasan-ringkasan. Renan dalah seorang orientalis yang disepanjang karyanya selalu berusaha mengaitkan timur dengan disiplin-disiplin komparatif yang mutkhir. Dari Renan inilah, filologi kemudian muncul sebagai displin yang paling menonjol pada saat itu.
            Perbedaan antara Sacy dan Renan hanyalah soal perayaan dan kesinambungan sementara Sacy adalah pelopor yang karyanya mampu mencerminkan kemunculan orientalisme untuk pertama kalinya dan mampu menganngkat status orientaslime sebagai disiplin abad XIX yang berakar dari dari romantisme revolusioner.
            Jika kita mempelajari kehidupan Silvestre de Sacy, ada dua tema besar yang akan kita temukan: Pertama, Usaha intelektualnya yang terkenal heroic, dan Kedua, kesadarannya akan manfaat pedagogis dan rasional dari kajian yang ia lakukan. Dilahirkan pada 1757 dari keluarga Jensenis yang secara turun-temurun berprofesi sebagai seorang notaries, Antoine-Isaac-Silvestre- demikian nama Sacy- memperoleh pelajaran prifat disebuah biara benedict. Di biara ini Sacy mula-mula memperoleh bahasa arab, Syria, dan Chaldea, kemudian bahasa Ibrani. Bagi sacy bahasa arab merupakan bahasa yang mampu membuka matanya terhadap dunia Timur. Kenyataan ini tentu tidak berlebihan mengingat bahasa arab menurut Joseph Reinaud- merupakan satu-satunya bahasa yang, jika orang menguasainya, akan mampu memahami materi-materi ketimuran secara komprehensif, baik yang sacral maupun yang profane, bahkan dalam bentuknya yang paling tua dan paling instruktif sekalipun.
            Orisinalitas genealogis Sacy adalah bahwa ia telah memperlakukan timur sebagai sesuatu yang harus dipugar, bukan hanya karena, tapi juga walaupun dengan adanya kekacauan timur modern dan kehadirannya yang sulit ditangkap. Sacy menempatkan orang-orang Arab di timur dalam tablo umum pengetahuan modern. Dari sini pula muncul semacam asumsi bahwa orientalisme merupakan hak kecendikiaan Eropa meskipun bahan bakunya terlebih dahulu harus diciptakan kembali oleh seorang orientalis sebelum ia naik panggung dan berjejer dengan latinisme dan hellenisme. Setiap orientalis menciptakan kembali “Timurnya masing-masing” berdasarkan hokum-hukum dasar epistemologis untung-rugi yang untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Sacy.
            Perbedaan antara sacy dan renan hanyalah soal peraayaan dan kesinambungan. Sementara sacy adalah pelopor (originator) yang karyanya mampu mencerminkan kemunculan orientalisme untuk pertamakalinya dan mampu mengangkat status orientalisme sebagai disiplin abad XIX yang berakar dari romantisme Revolusioner, maka Renan adalah memantapkan discourse resmi orientalisme. Mensistematisasi wawasan-wawasan orientalisme, sekaligus menegakkan pranata-pranata intelektual disiplin tersebut.
            Dengan fifiologinya, renan memang tampak sebagai tokoh orientalis yang independen, tapi ia bukanlah tokoh orisinil total dan bukan pula tokoh dengan pemilikan mutlak.

C.    Resedensi Timur dan Kecendekiaan : Tuntutan-tuntutan Leksikografi dan Imajinasi
Leksikologi adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari kata, sifat dan makna, unsur, hubungan antarkata (semantis), kelompok kata, serta keseluruhan leksikon. Ilmu ini terkait erat dengan leksikografi yang juga mempelajari kata, terutama dalam kaitannya dengan penyusunan kamus. Secara sederhana, leksikografi disebut sebagai penerapan praktis dari leksikologi.
            Pandangan Renan mengenai kaum semit tentu saja tidak hanya tergolong dalam prasangka popular dan anti semitisme, tetapi juga dalam bidang filologi Timur yang Ilmiyah. Jika kita melihat Renan dan Sacy kita akan segera melihat bagaimana regeneralisasi kebudayaan yang dilakukan oleh keduanya mulai memperoleh pondasi pernyataan Ilmiyah dan lingkungan kajian korektif.
            Sebagaimana bidang-bidang akademis lainnya pada fase-fase awal, orientalisme modern juga memperketat ruang lingkup pembahasannya, yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik. Dari sinilah bagaimana proses perbendaharaan kata “Barat” dan “Timur” menjadi berkembang.

D.    Peziarah dan Peziarahan: Inggris dan Perancis
            Ziarah merupakan aktifitas yang tak pernah dilupakan oleh orang eropa yang hendak menelaah Timur. Mereka tak hanya cukup mengkaji Timur dari Teks-teks imajinatif. Lebih dari itu, mereka harus mengunjunginya, memotretnya, dan jika perlu mengurusnya secara konsisten. Dari perziarahan ini, mereka menulis pengalaman-pengalaman pribadi mereka selama berada ditimur. Dan seperti yang kita ketahui, tulisan pribadi itu yang nantinya akan menjadi sejenis tulisan ilmiah yang bisa dikutip secara resmi oleh mereka yang berkepentingan.
            Namun demikian, setiap orang Eropa yang menjelajah  dan menetap ditimur harus melindungi dirinya dari pengaruh-pengaruh luar yang bermunculan tiada henti. Jika tidak, mereka akan gagal melahirkan tulisan-tulisan sensasional tentang timur.

E.     Kesimpulan
Para oriental benar-benar dipublikasikan di dunia Eropa terutama melalui karya sastra mereka. Tanah Oriental dan perilaku yang sangat romantis oleh para penyair dan penulis Eropa dan kemudian dipresentasikan kepada dunia barat. Para orientalis telah membuat panggung ketat untuk pemirsa Eropa, dan mengarahkan disajikan kepada mereka dengan warna persepsi penulis orientalis atau lainnya. Bahkan, tanah orientasi begitu sangat romantis bahwa penulis sastra barat merasa perlu untuk menawarkan ziarah ke tanah ini eksotis cahaya matahari murni dan samudra bersih untuk mengalami ketenangan pikiran, dan inspirasi untuk tulisan mereka. Timur sekarang dirasakan oleh orientalis sebagai tempat budaya manusia murni tanpa kejahatan yang diperlukan di masyarakat.Sebenarnya inilah kemurnian oriental yang membuat mereka kalah dengan Eropa pintar, cerdas, diplomatik, berpandangan jauh, dengan demikian itu hak mereka untuk memerintah dan belajar seperti ras bersalah. Orang-orang Eropa mengatakan bahwa orang-orang ini terlalu naif untuk berurusan dengan dunia yang kejam, dan bahwa mereka membutuhkan peran kebapakan Eropa untuk membantu mereka.
Silvestre de Sacy dan Ernest Renan bekerja dan memberikan orienatlism dimensi baru. Bahkan, Edward Said pujian kontribusi yang dibuat oleh Sacy di lapangan. Dia mengatakan Sacy yang mengorganisir semuanya dengan mengatur informasi sedemikian rupa sehingga juga bermanfaat bagi orientalis masa depan. Dan kedua, prasangka yang diwariskan oleh orientalis setiap adalah sangat rendah di dalam dirinya. Di sisi lain, Renan yang mengambil keuntungan dari pekerjaan itu Sacy itu sebagai bias seperti halnya orientalis sebelumnya. Dia percaya bahwa ilmu orientalisme dan ilmu filologi memiliki hubungan yang sangat penting, dan setelah Renan ide ini diberi perhatian banyak orientalis dan masa depan banyak bekerja dari dalam lini.

DAFTAR PUSTAKA

Buchari, A. Mannan. Minyikap Tabir Orientalisme. Jakarta: Amzah. 2006.
http\\:www.wikipedia.com
W. Said, Edwar. Orientalisme: mengugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timor Sebagai Subjek, Yogyakarta: Pustaka Pelaja. 2010.


ANAK DIDIK PENDIDIKAN DAN BAWAAN ANAK




ANAK DIDIK
PENDIDIKAN DAN BAWAAN ANAK




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk sifat dan karakter manusia menjadi insan kamil. Dengan pendidikan entah itu dalam keluarga, sekolah, ataupun lingkungan sekitar, manusia dapat terbuka fikirannya bahwa apa-apa yang ada dialam semesta ini terdapat  banyak sekali ilmu. Dari mulai yang ada di dalam diri manusia itu sendiri hingga luar angkasa yang sulit dijangkau oleh panca indra dan pada akhirnya berfikir bahwa alam semesta adalah pemilik sang pencipta dan Dialah yang mengatur segalanya. Oleh karena itu kehidupan manusia yang disandingkan dengan dunia dan seisinya ini tidak melulu digunakan untuk kesenangan-kesenangan belaka, melainkan harus mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan untuk menuju kehidupan yang dirahmatiNya.
Aturan-aturan itu salah satunya tentang pendidikan anak yang harus diperhatikan karena pendidikan pada masa kanak-kanaklah yang akan berpengaruh pada karakter anak itu ketika telah dewasa nanti.  Pendidikan terhadap anak  tidak hanya dilakukan ketika mereka masih kecil. Tapi, dilakukan sejak dalam kandungan sampai ia tumbuh dewasa. Oleh karena itu, penulis akan menguraikan beberapa hadist terkait pendidikan anak.

B.     Hadist
             1.      Hadits Abu Hurairah tentang anak lahir atas dasar fitrah
عَنْ هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّه عَنْه (فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ(أخرجه البخاري في كتاب الجنائز)
Dari (Abu) Hurairah ra. Dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang anakpun kecuali ia dilahirkan menurut fitrah. kedua orang tua nyalah yang akan menjadikan yahudi, nasrani, dan majusi sebagaimana binatang melahirkan binatang dalam keadaan sempurna. Adakah kamu merasa kekurangan padanya. Kemudian abu hurairah ra. berkata : “fitrah Allah dimana manusia telah diciptakan tak ada perubahan pada fitrah Allah itu. Itulah agama yang lurus”  (HR al-bukhari dalam kitab jenazah)

             2.      Hadits Samrah tentang aqiqah, memberi nama dan mencukur rambut anak
عَنْ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغُلامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّـابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْـلَقُ رَأْسُـهُ( أخرجه الترمذي في كتاب الاضاحي)

Dari Samurah RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “(setiap) anak kecil (belum baligh) tergadai (dan) ditebus dengan mengakikahkannya, disembelih hewan pada hari ketujuh lahirnya, diberi nama dan dicukur rambutnya”.(HR At-tirmidzi dalam Kitab kurban)

             3.      Hadits Abi Rafi’ tentang 4 aspek pendidikan
عن أبي رافع قال قلت يا رسول الله أللولد علينا حق كحقنا عليهم قال نعم حق الولد على الوالد أن يعلمه الكتابة والسباحة والرمي(الرماية) وأن يورثه(وأن لا يرزقه إلا) طيبا (هذا حديث ضعيف،من شيوخ بقية منكر الحديث ضعفه يحيى بن معين والبخاري وغيرهما باب ارتباط الخيل عدة في سبيل الله عز وجل)
"Dari Abi Rafi’ dia berkata: aku berkata: wahai RasulAllah apakahada kewajiban kita terhadap anak, seperti kewajiban mereka terhadap kita?, beliau menjawab: ya, kewajiban orang tua terhadap anak yaitu mengajarkan menulis, berenang, memanah, mewariskan dan tidak memberikan rizki kecuali yang baik”. (hadits ini dhoif, dari beberapa syeikh yang diingkari haditsnya. Di dhoifkan oleh Yahya bin Mu’in, al-Bukhari dan lainya. Bab mengikat kuda untuk berperang dijalan Allah azza wajalla).

             4.      Hadits Amer bin Syu'aib tentang pendidikan shalat terhadap anak usia tujuh tahun
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ (أخرجه ابوداود في كتاب الصلاة)
Dari ‘Amar bin Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya ra., ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “perintahlah anak-anakmu mengerjakan salat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan salat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan)!”. (HR.Abu Daud dalam kitab sholat)”.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Potensi Anak (Fitrah)
             1.      Pengertian Fitrah
Kata Fitrah berasal dari bahasa Arab فطر yang artinya sifat bawaan setiap sesuatu dari awal penciptaannya. Fithrah juga memiliki pengertian “agama” maksudnya adalah bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki sifat dasar untuk memiliki kecenderungan beragama tauhid, artinya memilikinya kecenderungan dasar untuk meyakini adanya zat yang Maha Esa sebagai Tuhan dan penciptanya yang patut dan wajib disembah serta diagungkan.
             2.      Potensi Dasar Anak
Pada dasarnya semenjak lahir manusia sudah dianugerahi fithrah atau potensi untuk menjadi baik dan jahat, akan tetapi anak yang baru lahir berada dalam keadaan suci tanpa noda dan dosa. Oleh karena, apabila dikemudian hari dalam perkembangannya anak menjadi besar dan dewasa dengan sifat-sifat yang buruk, maka hal itu merupakan akibat dari pendidikan keluarga, lingkungan dan kawan-kawan sepermainannya yang notabene mendukung untuk tumbuh dan berkembangnya sifat-sifat buru tersebut.
Ketika anak dididik dengan pendidikan yang baik maka dia akan menjadi baik, dan sebaliknya jika dia dididik dengan pendidikan yang cenderung mengembangkan potensi buruknya maka dia akan menjadi orang yang jahat. Ketika di masa kecil diajarkan agama Yahudi maka dia akan menjadi Yahudi, demikian pula jika diajarkan kepadanya ajaran agama Nasrani dia akan menjadi  Nasrani, dan begitu seterusnya.

B.     Hal-Hal Yang Dilakukan Terhadap Anak Yang Baru Lahir
             1.      Aqiqah
Para ulama menganjurkan agar aqiqah untuk bayi itu disembelih pada hari ke tujuh dari kelahirannya. Dan apabila masih belum sempat melakukannya, maka pada hari ke empat belas. Jika masih belum sempat, maka pada hari ke dua puluh satu. Mereka mengatakan bahwa kambing yang sah digunakan aqiqah adalah sama dengan kriteria kambing kurban. Untuk bayi laki-laki adalah dua ekor kambing, dan untuk bayi perempuan seekor kambing, baik kambing jantan maupun batina semuanya dibolehkan.
Aqiqqah dapat membebaskan bayi dari rintangan yang menghadangnya untuk dapat memberikan syafaat (pertolongan) kepada orang tuanya, atau dari keterhalangan dirinya untuk mendapatkan syafaat dari kedua orang tuanya. Aqiqah juga dapat memperkokoh syariat dengan menghilangkan khurafat (mistik) jahiliyah.
             2.      Memberi nama yang baik untuk anak-anaknya
Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Diantara yang indah adalah memberikan nama yang baik dan meninggalkan nama-nama yang buruk. Rosulullah bersabda yang artinya: “nama yang paling disukai Allah adalah Abdullah, dan Abdur Rahman, dan nama yang paling baik adalah Harits dan Hammam, sedangkan nama yang paling buruk adalah Harb ((perang) dan Murrah (pahit).”
Sebuah nama sedikit banyak memberikan pengaruh psikologis terhadap orang yang bersangkutan. Apabila seorang anak diberikan nama bermakna kesedihan, biasanya kedukaan akan senantiasa menyertai dirinya. Apabila seorang anak diberikan nama yang bernada cela maka akan terlihat pada dirinya sifat yang tercela.
             3.      Mencukur rambut bayi di hari ke tujuh
Islam menganjurkan agar rambut bayi dicukur pada hari ketujuh dari kelahirannya dengan tujuan untuk menghindarkan bayi dari penyakit. Disamping itu,islam mensyariatkan dikeluarkannya sedekah senilai emas atau perak yang beratnnya sesuai dengan rambut yang dicukur. Pencukuran rambut ini termasuk fitrah yang disyariatkan sebagaimana khitan.


C.    Empat aspek pendidikan
Di dalam al-Quran disebutkan :“Dan ketahuilah, bahwa harta mu dan anak-anak mu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhny disisi Allah-lah pahala yang besar “ ( QS. 8:28)
Dan di ayat yang lain :“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. 18:28)
Dari kedua ayat tersebut dapat dilihat bahwa anak dapat menjadi impian yang menyenangkan, manakala dididik dengan baik, dan sebaliknya akan menjadi petaka jika tidak dididik. Ayat-ayat tersebut sebagai titik tolak untuk mencurahkan tenaga dan pikiran dalam rangka memperbaiki anak melalui pendidikan, sehingga mereka dapat menjadi wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan sebaliknya menjadi fitnah (merepotkan) khususnya bagi orang tua dan umumnya bagi masyarakat.
Dalam sebuah hadist disebutkan : “Diceritakan dari Abi Rafi’ dia berkata : aku berkata wahai Rasullah apakah ada kewajiban kita terhadap anak, seperti kewajiban mereka terhadap kita? Beliau menjawab : ya, kewajiban orang tua terhadap anak yaitu mengajarkan menulis, berenang, memanah, mewariskan dan tidak memberikan rizki kecuali yang baik.”
Dalam hadist ini dijelaskan bahwa seorang anak memiliki hak yang harus didapat dari orang tua, yaitu berupa pendidikan keterampilan. Didalm hadist ini disebutkan 4 aspek ketrampilan yang berhak didapatkan oleh seorang anak dari orang tuanya, yaitu:
            1.      Menulis
Dalam pendidikan menulis anak dapat menggunakan tangannya untuk berekspresi dan mengenal huruf-huruf bacaan. Pendidikan menulis berarti pula pendidikan membaca, Pendidikan menulis ini bertujuan untuk menghilangkan kebodohan, dengan pendidikan ini anak mampu mengembangkan pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya.
            2.      Berenang
Pendidikan berenang menganjurkan untuk menjaga keseimbangan, hal ini berlaku pula dalam menjalani kehidupan. Pendidikan berenang bertujuan untuk melatih mental, mempertahankan hidup, bertahan dan melindungi diri untuk tidak tenggelam, tidak mudah menyerah, sehingga mampu mencapai apa yang diinginkan, pendidikan ini mengajarkan kesabaran pada anak.
            3.      Memanah
Memanah dianjurkan untuk menanamkan rasa patriotisme, menjadi orang yang teguh dan cinta tanah air. Selain itu juga untuk menjaga diri dari musuh. Membidik tepat sasaran juga sebagai latiha untuk menentukan keputusan dengan tepat dan berfikir jernih
            4.      Ekonomi
Orang tua haruslah memberikan rizki yang halal bagi anak, karena apa yang diberikan pada anak akan mempengaruhi terhadap keadaan serta karakter anak di masa yang akan datang. Dengan rizki yag halal cenderung seseorang akan terarah paa kebaikan begitu pula sebaliknya.
Kecakapan-kecakapan yang tersebut dapat digunakan oleh anak dalam menghadapi cobaan dan kesulitan yang akan dijumpai dalam kehidupannya. Sehingga ia dapat menjadihamba yang bertakwa, berkah, perhiasan yang menyenangkan, dan anugrah.

D.    Mengajarkan Sholat Kepada Anak-Anak
Sesungguhnya anak merupakan amanah yang Allah berikan kepada orangtua. Sudah menjadi suatu keharusan bagi orang tua untuk mengajarakan dan mendidik anaknya agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Salah satunya adalah dengan mengajari anak-anaknya sholat sedini mungkin atau sejak berusia tujuh tahun. Hal itu dimaksudkan agar ketika anak itu sudah mencapai usia baligh dapat menunaikan salah satu kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu sholat dengan baik. Dan apabila ia tetap meninggal sholat ketika sudah berusia 10 tahun, maka orangtua diperbolehkan untuk memukulnya (memberi pelajaran). 
Memisahkan tempat tidur anak bisa memberi bimbingan yang luar biasa dalam menanamkan adab dan akhlak jiwa dan raga pada kaum muda. Demikian itu karena usia 10 tahun merupakan usia seorang anak memiliki keinginan yang kuat untuk mengetahui, merasakan, dan melakukan seperti halnya orang dewasa. Di sinilah pentingnya menerapkan tarbiyah ini dan tidak boleh mengabaikannya.

E.    Kesimpulan
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci dan mempunyai potensi untuk berbuat baik dan buruk. Maka dari itu dalam perkembangan anak haruslah di didik dengan baik agar menjadi anak yang dibanggakan. Dalam islam sendiri banyak mengatur tentang pendidikan anak seperti hal-hal yang dilakukan ketika anak itu dilahirkan, masa kanak-kanak, dan beranjak dewasa. Semua itu tak lain agar anak yang dititipkan kepada orangtua kelak menjadi anak yang soleh dan solehah.

F.   Referensi
  • Miftahul, Huda, dan Muhammad Idris. Nalar Pendidikan Anak. Jogjakarta:Ar Ruzz Media. 2008
  • Ahmad bin al-Husain bin ‘Ali bin Musa Abu Bakar al-Baihaqy, Sunan al-Baihaqy al-Kubra, Makkah al-Mukarramah: Maktabah dar al-Baz, Juz 10, 1414, 1994
  • Juwariyah, Hadist Tarbawi.Yogyakarta: Teras. 2010
  • Jamal Abdurrahman, Anak Cerdas Anak Berakhlak, Semarang:Pustaka Adnan,2010
  • Hamid, Muhammad Muhyidin Abd. Sunnan Abu Dawud. Semarang: CV. Asy-Syifa. 1992